Jul 6, 2014

Memaafkan untuk Menyelamatkan

 Ada yang menarik saat saya berselancar di internet saat subuh tadi. Dalam salah satu artikel di situs-situs Islami yang saya baca sembari menunggu kantuk datang setelah shalat Subuh, ada keterangan bahwa dalam Al-Quran, tak ada perintah untuk meminta maaf.

Lah kok bisa? Saya juga baru tahu.

sumber disini

Agak aneh mengetahui bahwa tak ada perintah meminta maaf dalam Al-Quran yang lengkapnya ampun-ampunan itu. Akhirnya dari satu artikel tersebut, saya berselancar ke artikel-artikel lain demi memperdalam pengetahuan ini (maaf yah, untuk sementara bergurunya di Internet hihihi).

Jun 24, 2014

GOT Season 4: Kemegahan, Brutalitas, dan Peliknya Cinta

 Akhirnya weekend ini saya nonton Games of Throne Season 4 jugak! Aaakk!

Ah, kebahagiaannya tak terperi. Begitu juga dengan rasa gemas, kesal, ngeri, sedih, dan penasaran yang kemudian mengikuti. Setelah begitu lama menunggu Season 4 ini keluar, rasa penasaran yang kemarin kembali dijawab dengan rasa penasaran lainnya akan kelanjutan kisah yang diangkat serial novel dari A Song of Ice and Fire ini.

Yang paling saya tunggu tentu matinya Joffrey. Oooh I love that scene! Susah untuk menahan sorakan gembira saat ia mati dengan penuh ironi di pangkuan ibunya, di tengah-tengah acara pernikahannya sendiri. Dengan demikian karakter paling dibenci di GOT mati sudah. Kayaknya G.R.R Martin memang pilihan wedding organizer terburuk yang pernah ada. Ini kedua kalinya pernikahan dalam GOT yang berakhir sebagai tragedi mengerikan. But who cares? That son of a bitch die, thanks Seven-Gods. Hanya saja misteri siapa-yang-memasukkan-racun-ke-gelas-wine-Joffrey masih belum terlalu jelas. Memang racunnya diambil dari kalung Sansa, dan banyak pihak yang terlibat dalam upaya pembunuhan ini. Tapi orang yang benar-benar memasukkan racun ini belum diketahui.

sumber disini

Jun 18, 2014

Biar Pilihan itu Semesta yang Tentukan

Sumber Gambar Disini

“Kamu mau datang ke pernikahannya Gavin?”

Perempuan itu mendengus dan melirikkan ujung matanya. “Itu pertanyaan atau ejekan?”

Ares tidak melanjutkan, namun terus menatap Helena—perempuan itu—dengan pandangan yang sulit ditebak artinya. Helena menunggu, lalu kembali mengalihkan pandangannya melampaui jendela, menatap  pemandangan Jakarta ketinggian lantai 27, dan menghisap rokok Malioboro merahnya pelan-pelan.

“Dia membatalkan pernikahan kami untuk perempuan lain.” Perlahan, Helena berucap dengan bola mata yang tetap menatap jalanan sibuk di bawah mereka. “Dan aku tidak perlu datang ke tempat itu untuk sok menunjukkan kebesaran hati karena sudah dicampakkan tepat sebulan sebelum pernikahan.”

“Tapi, Na… Kamu tahu dia tidak punya pilihan…” Ares nyaris berbisik.

Apr 22, 2014

Aria

sumber gambar disini

Aria, sudahkah sampaikah salamku padamu? 

Salam yang kutitipkan pada angin semilir kesukaanmu sore lalu?

Ya, aku tahu, kau tak perlu lagi mengataiku dungu. Harusnya kusampaikan sendiri padamu, setiap inchi dan seluk beluk perasaanku. Bagaimana bisa aku menitipkan hal sepenting kejujuran hati kepada angin, sahabat yang terlalu sibuk mondar-mandir tak tentu? Tapi tentunya kau pun tahu, untuk mengangkat wajahku di depanmu-pun saat ini aku tak mampu.

Sakitkah Aria?

Apr 4, 2014

Bagimu Dia sahabat, Tapi Baginya?

Menurut saya, lebih baik menampar seorang sahabat di depan wajahnya dibanding menusuknya dari belakang.

Tamparan disini jangan diartikan secara harfiah loh ya. Maksudnya disini adalah analogi dari teguran yang terus terang, pedas, dan keras sehingga sakitnya bisa saja mengalahkan rasanya ditampar tepat di muka.

Dan iya, saya seperti itu.

Saya membiasakan diri untuk berterus terang dengan orang yang sudah saya anggap sahabat. Alasannya sederhana, saya sesayang itu dengan dia sampai-sampai saya mau mengambil resiko dia akan sakit hati lalu pergi. Saya senekat itu demi dia hingga mengambil resiko dia akan menampar saya balik.

Kenapa? Apa saya se-rese' itu sampai mau ribet ngurusin hidup anak orang? Nggak. Karena dengan orang yang tidak saya anggap sahabat, mau dia hidup atau nggak, perduli-pun saya nggak. Karena itu status sahabat itu selalu saya letakkan hati-hati, supaya mampu menjaga hati saya sendiri.

Karena ternyata memang demikian. Seseorang yang kamu anggap sahabat, belum tentu menganggapmu sama. Kalau dia tidak memperdulikan saya seperti saya memperdulikannya, oh ya sudah lah ya, tidak apa-apa. Namun setelah beberapa kali mengalami yang sakit-sakit, akhirnya saya sadar, ada saja orang yang membalas tamparan di pipi justru dengan tusukan dari belakang.

Jahat, memang...

Dan kalau sudah begitu, mekanisme diri saya pasti akan bereaksi... Untuk melindungi hati dari sakit dan kecewa, saya belajar untuk mencabut label sahabat itu, belajar untuk menganggapnya tak ada saja di dunia ini.. Agar sakit hatinya tak bertambah, agar harapan dia bisa kembali jadi sahabat masih ada tersisa...

Bukannya mendendam, tapi saya nggak mau jatuh ke tahap benci hingga saya sudah tak mau lagi berurusan dengan dia. Saya juga menunggu dia berubah, karena untuk apa menerima orang yang terus menerus menyebabkan rasa sakit, kan?

Dan bener lho, dalam semua kasus dimana saya sakit hati dengan seseorang, begitu dia berubah dan meminta maaf, serta saya yakin dia tidak akan menyakiti saya seperti sebelumnya, saya akan kembali menganggapnya sahabat. Akan kembali memerhatikan dan menyayangi dia.

Tapi itu ya "kalau". Bagaimana kalau dia nggak berubah juga? Ya sudah... Sudah. Hahaha.

Seperti kata salah satu teman di kampus, "suci itu perhatian banget, tapi kalau dikecewakan, ya.... Sudah."


Posted via Blogaway