Apr 22, 2014

Aria

sumber gambar disini

Aria, sudahkah sampaikah salamku padamu? 

Salam yang kutitipkan pada angin semilir kesukaanmu sore lalu?

Ya, aku tahu, kau tak perlu lagi mengataiku dungu. Harusnya kusampaikan sendiri padamu, setiap inchi dan seluk beluk perasaanku. Bagaimana bisa aku menitipkan hal sepenting kejujuran hati kepada angin, sahabat yang terlalu sibuk mondar-mandir tak tentu? Tapi tentunya kau pun tahu, untuk mengangkat wajahku di depanmu-pun saat ini aku tak mampu.

Sakitkah Aria?

Apr 4, 2014

Bagimu Dia sahabat, Tapi Baginya?

Menurut saya, lebih baik menampar seorang sahabat di depan wajahnya dibanding menusuknya dari belakang.

Tamparan disini jangan diartikan secara harfiah loh ya. Maksudnya disini adalah analogi dari teguran yang terus terang, pedas, dan keras sehingga sakitnya bisa saja mengalahkan rasanya ditampar tepat di muka.

Dan iya, saya seperti itu.

Saya membiasakan diri untuk berterus terang dengan orang yang sudah saya anggap sahabat. Alasannya sederhana, saya sesayang itu dengan dia sampai-sampai saya mau mengambil resiko dia akan sakit hati lalu pergi. Saya senekat itu demi dia hingga mengambil resiko dia akan menampar saya balik.

Kenapa? Apa saya se-rese' itu sampai mau ribet ngurusin hidup anak orang? Nggak. Karena dengan orang yang tidak saya anggap sahabat, mau dia hidup atau nggak, perduli-pun saya nggak. Karena itu status sahabat itu selalu saya letakkan hati-hati, supaya mampu menjaga hati saya sendiri.

Karena ternyata memang demikian. Seseorang yang kamu anggap sahabat, belum tentu menganggapmu sama. Kalau dia tidak memperdulikan saya seperti saya memperdulikannya, oh ya sudah lah ya, tidak apa-apa. Namun setelah beberapa kali mengalami yang sakit-sakit, akhirnya saya sadar, ada saja orang yang membalas tamparan di pipi justru dengan tusukan dari belakang.

Jahat, memang...

Dan kalau sudah begitu, mekanisme diri saya pasti akan bereaksi... Untuk melindungi hati dari sakit dan kecewa, saya belajar untuk mencabut label sahabat itu, belajar untuk menganggapnya tak ada saja di dunia ini.. Agar sakit hatinya tak bertambah, agar harapan dia bisa kembali jadi sahabat masih ada tersisa...

Bukannya mendendam, tapi saya nggak mau jatuh ke tahap benci hingga saya sudah tak mau lagi berurusan dengan dia. Saya juga menunggu dia berubah, karena untuk apa menerima orang yang terus menerus menyebabkan rasa sakit, kan?

Dan bener lho, dalam semua kasus dimana saya sakit hati dengan seseorang, begitu dia berubah dan meminta maaf, serta saya yakin dia tidak akan menyakiti saya seperti sebelumnya, saya akan kembali menganggapnya sahabat. Akan kembali memerhatikan dan menyayangi dia.

Tapi itu ya "kalau". Bagaimana kalau dia nggak berubah juga? Ya sudah... Sudah. Hahaha.

Seperti kata salah satu teman di kampus, "suci itu perhatian banget, tapi kalau dikecewakan, ya.... Sudah."


Posted via Blogaway

Mar 20, 2014

Perempuan dan Romantisme Teroris

“There are the women who are completely on our side. 
Those who are wholly dedicated and who have accepted our program in its entirety. 
We should regard these women as the most valuable or our treasures. 
Without their help, we would never succeed.”

sumber disini

Setuju jika tulisan diatas digolongkan romantis?

Jika dinilai dari kata-katanya, sepertinya sih penulisnya ini seorang pujangga sejenis Shakespeare, atau malah pria yang feminis, yang benar-benar mengerti dan memahami arti pentingnya perempuan dalam hidupnya, ya?

Dari penggambarannya mengenai perempuan yang dinilainya sebagai ‘yang paling berharga’ dan bahkan ‘harta karun’ itu, kebayang tentunya, betapa klepek-klepeknya perempuan yang dihadiahi kata-kata itu.

Dan gimana kalau kemudian saya beri tahu anda bahwa tulisan itu adalah milik Sergey Nechayev, seorang penjahat kelas kakap di era 80-an yang bahkan membuat Tsar di Rusia menggigil ketakutan?

Mar 3, 2014

Happy 22nd Birthday, Love!



Alhamdulillah, tanggal 27 Februari kemarin Allah masih mengijinkan gue mendampingi mas Pacar melewati satu momentum lagi dalam pertambahan umurnya. Dan kini, selain hubungan kami sudah menginjak 47 bulan, mas Pacar juga genap menjabat umur 22 tahun!

Dan kalau melihat kebelakang, rasanya agak takjub juga melihat perubahannya dari umur 19 tahun lalu hingga menginjak umur 22 tahun seperti sekarang.

Secara keseluruhan, sosoknya yang sekarang sebenarnya membuat gue agak merasa terintimidasi dalam artian positif. Karena dulu anggapan gue adalah, dalam hubungan kami, akulah jangkar yang membuat kapalnya tetap berlabuh di dermaga ini. Harus gue yang berjuang dan berusaha agar ‘kami’ bisa. Karena bagi gue hubungan ini berharga. Segalanya.

Feb 17, 2014

Esok Pagi

sumber disini

Pagi hari selalu menjadi yang terburuk. Dimana aku terbangun dari mimpi indah untuk mendapati bahwa dunia kini sudah kehilangan sinarnya. Mati.

Dan selalunya, aku mengumpulkan serpih-serpih diri sembari mengguyur air berkali-kali ke atas kepala untuk membasuh air mata. Diam-diam berharap bahwa entah bagaimana, luka di hati juga terbilas pergi bersama gelembung busa yang lenyap diterjang air.

Ketika kemudian mematut diri di hadapan cermin, yang mampu kulihat adalah betapa redupnya diri. Mata yang lelah karena membasahi bantal, hingga bibir yang pecah karena kugunakan untuk menahan jeritan.