Aug 5, 2011

Kisah Cinta Fir'aun Tutankhamun dan Ankhesenamun

Seperti yang gue ulas di entri sebelumnya, salah satu topik kesukaan gue adalah kisah Mesir Kuno terutama di akhir jaman Dinasti ke-18, mengenai Tutankhamun dan Ankhesenamun. Well, mungkin beberapa orang tertarik dengan kutukan yang dikatakan terdapat dalam makam Tut, atau misteri kematiannya.

Tapi gue justru lebih tertarik dengan gosip percintaan Tut yang rumit. Hahaha.
Yah bayangkan saja saat itu topik mengenai kehidupan Tut sama serunya seperti tayangan infotainment saat ini. Nah, kira-kira, setelah membaca banyak buku dan browsing di internetnya (sakin banyaknya sumber, gue juga sudah lupa dari mana saja) kira-kira begini gosipnya, pemirsa;

Lukisan Ankhesen dan Tutankhamun. Unyu yaaaa :')


Tutankhamun (Nama Horusnya; Nebkheperre) adalah raja Mesir kuno yang bertahta 1347-1339 SM yang lahir dengan nama Tutankhaten dari raja Akhenaten dan Kiya. Ia menghabiskan masa kecilnya sebagai Pangeran muda di Armana. Setelah kakaknya, Semenkhere meninggal, Tut menjadi Fir’aun di usianya yang ke-9 tahun, menikahi Ankhesenamun yang sedikit lebih tua darinya, sekaligus menjadi raja terakhir dalam dinasti ke 18.


Ayah Tut, Raja Ankhenaten, adalah seorang revolusioner (bilang ajah begitulah yah) yang merombak habis Mesir bersama dengan Ratunya, Nefertiti. Ankhenaten ini dilukiskan sebagai firaun yang bentuknya ehm, rada ‘feminim’ dengan perut buncit, kepala memanjang, dan wajah tembam (biasanya Fir’aun lain dilukiskan dengan gagah). Nefertiti sendiri bukan dari kalangan bangsawan, namun ia sangat cantik dan luar biasa cerdas hingga menjadi penasehat dari suaminya.

Ankhenaten dan Nefertiti meninggalkan dewa-dewa Mesir yang jumlahnya lebih dari 1000 itu (yang dikepalai dewa-nya dewa yaitu Amun-Ra, kalau di Yunani Zeus kali ya) dan beralih pada dewa tunggal yaitu Aten-Ra yang berbentuk Matahari yang memiliki banyak tangan, memindahkan ibukota ke Armana, membangun ‘pemakaman khusus’ serta kuil-kuil Aten di sebelah timur Nil (biasanya pemakaman dan kuil dibangunnya di bagian barat Nil).

Sepertinya raja yang satu ini rebel banget yah.

Setelah Tut naik tahta, dalam dua tahun pertama kekuasaannya sebagai Fir’aun, ia memindahkan kembali pusat kekuasaan dari Amarna ke Thebes, membuka semua kuil-kuil Amun-Ra yang sempat ditinggalkan, mengembalikan kepercayaan Mesir kepada dewa-dewa lama mereka, dan mengubah namanya serta istrinya, serta mengumumkan kesesatan Ayahnya.

Saat itu ada seorang pria (hasek) yang menjadi penasehat bagi Tut, yaitu Ay, yang dulunya di masa pemerintahan Ankhenaten menjabat juga menjadi Perdana Menteri muda. Gue rasa dia dan Horemheb—panglima militer yang anti banget dengan dinasti 18 ini—lah yang mempengaruhi Tut agar mengembalikan kepercayaan Mesir ke Amun-Ra.

Tidak heran jika Tut menurut, karena sesungguhnya Tut sendiri juga bukan pemimpin yang luar binasa hebat atau gagah. Tut justru dilukiskan sebagai pemuda yang lemah akibat kelainan genetik yang diwariskan dari perkawinan sedarah yang terus-menerus. Ia memiliki tulang yang rapuh, bahkan salah satu jari kakinya tidak bertulang. Dalam makamnya terdapat 130 tongkat yang diantaranya terlihat jelas pernah digunakan. Dalam lukisannya pun Tut digambarkan melakukan kegiatan sehari-hari seperti memanah dan melempar bumerang sembari duduk di atas kursinya.

Hasil rekontruksi tengkorak mumi Tut. Kyaaa ganteng ya imut-imut gimana geto. >.<


Penelitian terbaru juga mengemukakan bahwa kematian Tut kemungkinan besar berasal dari infeksi kaki kirinya yang patah dan malaria akut yang telah menyerangnya berkali-kali.

L bisa dibayangkan, Tut mungkin sebenarnya hanyalah seorang remaja lemah yang mengenakan mahkota bertahtakan Uraeus (ular yang dikisahkan mampu menyemburkan api dan mematuk ribuan kali), membawa tongkat dan cambuk, serta duduk sebagai ‘putra dewa’.

Namun seperti ayahnya yang ‘feminim’ namun berhasil beristrikan perempuan cantik nan cerdas—Ratu Nefertiti, Tut juga beristrikan perempuan yang terkenal dengan kecantikan dan kekuasaannya, Ankhesenamun yang lahir dengan nama Ankhesenpaaten.

Ankhesen adalah putri Ratu Nefertiti dan Ankhenaten. Ia disebut-sebut sebagai anak kesayangan ayah dan ibunya. Dalam banyak lukisan, terlihat Ankhesen merupakan gadis lembut serta penyayang. Sayangnya, Ankhesen juga dikisahkan memiliki rahim yang lemah akibat jatuh dari kuda. Dalam makam Tut ditemukan 2 mumi janin yang dicurigai sebagai anak-anak Ankhesen dan Tut yang gugur dalam kandungan.

Unyu-nya, Tut dan Ankhesen dilukiskan sebagai pasangan muda yang penuh cinta (hasek) salah satu lukisan menggambarkan Tut yang berdiri dengan bersandar pada tongkatnya, menerima seikat bunga yang disodorkan Ankhesen pada suaminya. Pada peti mati Tut juga ditemui sisa-sisa dari kalung dari bunga yang dicurigai sebagai pemberian terakhir Ankhesen.

Hikshikshiks :’(

Saat Tut meninggal, Ankhesen berada dalam kekuasaan musuh-musuhnya, Ay dan Jenderal Horemheb. Ia mencoba menulis surat pada musuh utama Mesir saat itu, Raja Hittite, untuk meminang putranya.

“Karena suamiku telah meninggal dan aku tidak memiliki putra.” Tulisnya.

Lukisan Ankhesenamun. Menurut gue rada ngasal. Soalnya biasanya orang jaman mereka memakai hiasan mata.


Maka Raja Hittite-pun mengirimkan salah seorang putranya ke Mesir, namun pangeran ini dibunuh saat dalam perjalanan ke Mesir!

Dan tebak apa? Setelah itu Ay—si pendeta sekaligus perdana menteri sekaligus penasehat itu—menikahi Ankhesen sebagai istri kedua dan menjadi Fir’aun berikutnya! Jrengjreng! Sedihnya, Ankhesen kemudian meninggal dalam usia muda.

Istri pertama Ay sebenarnya adalah sepupu Ankhesen yaitu Tey—karena ia merupakan keponakan dari Ankhenaten. Tey ini adalah perempuan ambisius yang sebenarnya tak dicintai dan mencintai Ay, namun memiliki ambisi besar untuk menjadikan keturunannya sebagai Fir’aun.

Hanya setelah 4 tahun memerintah, Ay meninggal. Mungkin tidak lama dari kematian Ankhesen.

Disini gue sering berkhayal. Mungkinkah Ay memang mencintai Ankhesen? Karena sekalipun kebencian Ay terhadap Tut begitu kuat, mengapa ia tidak membunuh Tut dari awal? Ay sendiri memiliki posisi yang lebih kuat dari Tut—terutama karena Jenderal Horemheb begitu menaruh respek terhadapnya. Tentu mudah baginya menyingkirkan Tut. Tapi kenapa tidak? Mengapa ia malah menjadi penasehat Tut? Apakah ia Severus Snape yang diam-diam mencintai Lily Potter (HASEK)?

Balik lagi ke dunia nyata, setelah Ay meninggal, Horemheb-pun berkuasa sekalipun ia tidak memiliki darah bangsawan. Ia meninggal tanpa keturunan sehingga Fir’aun berikutnya jatuh ke tangan sesama komandan—Ramses I yang memulai sejarah dinasti ke-19 Mesir dan orang yang berusaha keras menghapus sejarah mengenai dinasti ke-18 karen membenci kemurtadan mereka.

Haaaah.. dunia klasik itu memang mengundang hasrat untuk berimajinasi ya. J semoga kemajuan teknologi dapat memberikan kabar (ehm, gosip) baru mengenai Tut dan Ankhesen dan Ay (hasek, cinta segitiga).


n.b. banyak spekulasi mengenai data-datanya, jadi gue ngambilnya yang menurut gue paling mendekati nalar. Btw, CMIIW yaaa.. J


5 comments:

  1. gw suka nih artikel....
    tambahin lagi dong tentang sejarah mesir kuno ;)

    ReplyDelete
  2. sip, gan ^^ bentar ya, ngumpulin referensi dulu

    ReplyDelete
  3. Kereeen bangeeeud...... Ditunggu kisah klasik lainnya.....

    ReplyDelete
  4. jarang bgt bisa baca crta cinta sprti ini d sjrah mesir..bahkan d natgeo aja jrang.. :D thanks yaa

    ReplyDelete

Yang komentar cakep lhoo~oo (amiiin) :p