Jul 22, 2011

Apa yang Harus Saya Lakukan Bila Diperkosa?

“Untuk para korban dan keluarganya yang terus berjuang untuk bangkit kembali.Untuk mereka yang memberi pertolongan pada korban pada saat kejadian.Dan untuk para pendamping korban yang tak kenal lelah.Mereka pahlawan kita.”--Buku ‘Tragedi Mei 1998 dalam Perjalanan Bangsa Disangkal!’ oleh Komnas Perempuan--

sumber gambar disini

Selama ini kita sering mendengar pemberitaan mengenai perkosaan yang dialami oleh perempuan-perempuan di sekitar kita. Tak jarang dalam perkosaan tersebut korban juga menderita luka yang sangat parah hingga menyebabkan kematian. Perkosaan yang sadis ini terkadang membuat kita seram dan menutup mata, menanggap mereka bukan bagian dari dunia kita dan berasumsi bahwa kita atau orang di sekitar kita tidak akan ada yang bernasib ‘sama’ seperti mereka.

Dan pemikiran-pemikiran itu sayangnya, sangat salah sekali.

Perkosaan bisa dialami oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja. Perkosaan dapat terjadi pada semua perempuan dari berbagai kedudukan, profesi, dan status dalam masyarakat.


Berpakaian sopan atau berjilbab bukanlah ‘jaminan’ bahwa anda tidak akan pernah mengalami perkosaan. Banyak kasus yang timbul akhir-akhir ini yang membuktikan bahwa tidak sedikit perempuan berjilbab di luar sana yang mengalami perkosaan. Perkosaan juga tidak terjadi hanya pada mereka yang berpenampilan menarik. Contohnya saja kasus perkosaan pada nenek-nenek berusia 64 tahun di rumahnya di Jawa Timur (Republika, 6 September 1994).

Tidak berinteraksi dengan orang asing atau membatasi keluar rumah juga bukan jaminan. Berapa banyak anak yang diperkosa di dalam rumahnya sendiri? Oleh orang-orang terdekatnya bahkan keluarga? Oleh pacar tampan yang tampaknya santun dan berbudi pekerti?

Bahkan dalam kasus perkosaan, kerap terjadi ‘perencanaan’ yang matang oleh pelakunya. Misalnya mengamati kegiatan korban, sengaja menjerumuskan korban dengan tipu-daya (misalnya JH, siswa kelas 2 SMP Negeri Abunten di Sumenep yang diperintahkan gurunya untuk mengambil bola voli di rumah dinas gurunya. Namun justru setibanya disana, ia diperkosan oleh gurunya yang sudah menunggu dengan tali dan selimut untuk membekap (Jawa Pos, 5 November 1994)).

Bahkan dari data kasus yang masuk, perkosaan yang dilakukan oleh orang yang dikenal atau orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban adalah sebanyak 75% dibandingkan dengan pelaku yang tidak dikenal korban yaitu 15%.

Masyarakat umum memang masih beranggapan bahwa perkosaan terjadi karena si perempuan. Kenapa? Karena dalam budaya kita yang masih mengagungkan superioritas kaum laki-laki, penindasan perempuan itu dianggap sudah membudaya. Bahkan ketika menjadi korban, karena budaya ini sudah tertanam di otak kita, kita menganggapnya wajar karena merasa perempuan memang lemah dan pantas ditindas.

“Pakaiannya seksi banget sih!” kenapa bukannya “Laki-lakinya ngeliat leher mulus sedikit udah langsung horny sih! Kebanyakan nonton film yang nggak bener!”

“Pulangnya malam terus sih!” kenapa bukannya “Ini gimana sih, suaminya. Udah tau istrinya terpaksa shift malam untuk mencukupi ekonomi keluarga. Bukannya menjemput malah ngopi di warung.”

Saya percaya anda yang membaca artikel ini bisa menghapus paradigma bahwa perkosaan terjadi akibat kesalahan perempuan atau karena perempuanlah yang memicu kejadian tersebut.

Memangnya ada anak perempuan yang sengaja menggoda ayahnya untuk diperkosa? Memangnya ada perempuan yang memakai jilbab dengan tujuan merangsang laki-laki? Memangnya ada perempuan yang bekerja membanting tulang demi susu anak bayinya di rumah sengaja pulang pada malam hari untuk dinodai dan disakiti?

Well, tidak ada.

Dan hanya sedikit yang menyadari bahwa sikap masyarakat ini malah ‘menyuburkan’ tindak perkosaan (bisa dilihat dari grafik kasus perkosaan yang terus menanjak naik). Bagaimana tidak? Setiap kali terjadi kasus perkosaan? Masyarakat memilih menghujat dan menjatuhkan vonisnya pada si perempuan dan membela si laki-laki.

Coba yang diperkosa ini istrinya, anaknya, atau pacarnya. Lain lagi pasti, omongannya.


sumber gambar disini
Korban perkosaan kebanyakan adalah mereka yang memiliki kedudukan yang lebih rendah atau lemah dibanding pelakunya. Well, perempuan saja sudah dilahirkan dengan cap ‘penduduk dunia no. 2’. Misalnya seorang murid yang dipaksa gurunya untuk berhubungan seksual, kalau tidak ia dicap ‘nakal’. Atau pembantu rumah tangga yang diperkosa dan diam karena ia memiliki ketergantungan ekonomi pada majikannya.
  
“laki laki itu kuat dan berkuasa.. maka berhak untuk memperkosa!!” 
 Dalam buku Working with Rape Survivors (1990) dijelaskan bahwa dampak perkosaan itu terjadi dalam dua tingkatan. Pertama, dampak segera setelah perkosaan dan kedua, dampak jangka panjangnya.

LBH APIK yang khusus menangani perempuan, kerap menerima kasus mengenai korban perkosaan. Dapat dilihat bahwa terdapat dampak yang berbeda-beda pada setiap korban. Namun secara rata-rata dapat dilihat bahwa korban cenderung menangis, murung, marah, takut, dan sebagainya.

Biasanya terdapat tiga sikap yang dapat dilihat pada korban perkosaan;
a.                Korban yang berusaha menahan perasaan dan bersikap tenang
b.                Korban yang menunjukan luapan emosinya dengan memaki atau menangis
c.                 Korban yang menarik diri dengan berhenti berkomunikasi dengan dunianya (sangat berpotensi pada depresi akut dan kegilaan)

Trauma dan phobia menjadi suatu hal yang wajar diderita oleh korban perkosaan misalnya mimpi buruk yang berkelanjutan, trauma pada tempat gelap atau pada orang lain, bahkan hingga trauma dalam berhubungan intim, terutama jika perkosaan ini mengakibatkan kehamilan sehingga mereka terpaksa melahirkan anak yang tidak ia inginkan atau terpaksa melakukan aborsi.

Reaksi fisik juga muncul dalam intensitas yang berbeda seperti tidak nafsu makan, susah tidur, mual, rasa sakit di perut dan vagina. Belum lagi jika pelaku menularkan penyakit menular seksual kepada korban seperti AIDS dsb. Bahkan tidak jarang ada pelaku yang memasukkan benda-benda asing ke dalam vagina korban hingga terjadi luka yang sangat parah bahkan pendarahan.

Lebih lanjut lagi, yang terberat sesungguhnya adalah label yang diberikan oleh masyarakat yaitu ‘perempuan yang sudah tidak suci’ atau ‘perempuan penggoda’. Perempuan yang mengalami perkosaan kerap diperlakukan lebih kejam dari narapidana.

Bukan hanya masyarakat, pihak keluarga korbanpun kerap menyalahkan bahkan menutupi kejadian ini karena malu dan menganggap kemalangan yang terjadi sebagai ‘aib keluarga’. Akibatnya, bukannya mendapatkan penanganan yang seharusnya, korban malah terjerumus semakin dalam.
  
"Korban perkosaan adalah korban trauma yang paling sulit untuk ditangani secara psikologis.”

 So, anda masih mau mengikuti pandangan masyarakat umum itu atau setuju untuk mulai berfikir dengan akal sehat?

Jika anda pernah diperkosa, mungkin hal-hal tersebutlah yang ingin anda jeritkan selama ini. Betapa tak adilnya dunia pada anda. Namun jika anda termasuk mereka yang beruntung dan belum pernah mengalami hal mengerikan ini, maka waspadalah, bahwa anda bisa saja mengalaminya.

sumber gambar disini

Lalu, apa yang harus dilakukan jika anda atau orang disekitar anda mengalami perkosaan?

JIKA ANDA YANG MENGALAMI PERKOSAAN DAN INGIN MENEMPUH JALUR HUKUM

ü  Kumpulkan semua bukti yang bisa anda dapatkan seperti bentuk wajah pelaku (jika pelaku tidak dikenal) atau nomor plat mobil, pakaian atau barang milik pelaku. Masukkan semuanya dalam kantong kertas atau plastik.

ü  Jangan membersihkan diri atau mandi. Karena sisa sperma, rambut, kulit, dan keringat pelaku dapat menjadi bukti yang sangat kuat. Darah dan luka pada bagian vagina yang baru mengalami trauma (biasanya luka pada vagina akibat benda tumpul) juga mampu dijadikan bukti yang kuat.

ü  Segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat. Selain untuk melakukan visum, juga segera mendeteksi jika adanya kemungkinan penularan penyakit dan pengobatan bagi luka-luka yang dialami.

Mengapa tidak ke kantor polisi terlebih dahulu? Ingatlah bahwa jika anda ke kantor polisi terlebih dahulu, mereka hanya akan mencatat laporan anda dan memberikan surat pengantar untuk memeriksakan diri (dan sangat sering memakan waktu lama dalam prosesnya). Akibatnya, bukti-bukti penting kerap rusak dan tidak dapat digunakan lagi (contohnya, sperma yang dapat hilang karena masa hidup sperma yang terbatas).

Sementara, jika memeriksakan ke dokter, anda bisa melakukannya tanpa surat pengantar (toh nanti di kepolisian juga dirujuk ke pemeriksaan medis). Dokter juga dapat mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan ditemukannya tanda persetubuhan yang sama kuatnya dengan visum et repertum.

Kendalanya:

Korban perkosaan sering kali mengalami shock berat sehingga kebingungan untuk menentukan apa yang harus ia lakukan. Terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama bagi korban untuk berani mengungkap apa yang terjadi padanya. Untuk itulah penting dalam mengkomunikasikannya dengan teman dekat atau keluarga.

HAL PENTING YANG HARUS DIINGAT
·         Pergerakan sperma di liang vagina korban perkosaan yang hidup, berkisar kurang lebih 4-5 jam setelah persetubuhan.
·         Sperma masih bisa ditemukan kurang lebih 24-36 jam setelah persetubuhan
·         Bila korban perkosaan dibunuh, sperma masih bisa ditemukan 7-8 hari setelah persetubuhan.
·         Selaput dara korban yang robek, akan mengalami proses penyembuha dalam waktu 7-10 hari.

Ini sebabnya sangat penting untuk segera memeriksakan diri setelah terjadinya perkosaan. Jika anda menunda pemeriksaan medis, sesungguhnya hal itu hanya akan merugikan anda karena kehilangan alat bukti yang sangat kuat berupa sperma pelaku atau kondisi luka vagina (btw, luka akibat pemaksaan hubungan seksual dan luka akibat hubungan yang suka sama suka itu berbeda bentuknya lho).

BAGAIMANA JIKA ANDA MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK MENEMPUH JALUR HUKUM?

Well, walau undang-undang mewajibkan anda untuk melapor, namun kalau anda memiliki alasan yang kuat untuk tidak menempuh jalur hukum, apapun alasan anda, ini adalah hidup anda dan anda berhak untuk mengmbil keputusan macam apapun.

Namun ingat, jika anda memutuskan untuk menyimpannya dan tidak melakukan apapun seumur hidup anda, mungkin anda akan semakin menyalahkan diri anda sendiri karena tidak berbuat apa-apa. Bisa jadi anda malah akan dihantui ketakutan karena pelakunya masih berkeliaran bebas di luar sana. Bisa jadi tidak ada seorangpun yang memahami sikap anda yang berbeda karena mereka tidak tahu apa yang terjadi pada diri anda.

 Jika memang anda siap dan mau menempuh hidup demikian, satu hal yang anda butuhkan adalah konseling ke psikolog. (Bukan psikiater lho ya. Psikiater itu hanya untuk mereka yang sudah tidak mampu berkomunikasi dengan baik sehingga dibutuhkan penanganan lebih lanjut. Jika anda masih mampu berkomunikasi dengan normal, maka lakukanlah konseling ke psikolog.)

MELAKUKAN KONSELING KE PSIKOLOG BUKAN BERARTI ANDA GILA! TIDAK!

Kebanyakan orang berfikir bahwa jika dirujuk ke psikolog itu berarti dia gila. Anda tidak gila, karena kalau orang gila dirujuknya ke psikiater.

Hapus paradigma ini dari otak anda. Sebagai korban perkosaan, anda manusia dan anda sangat mungkin mengalami trauma. Well, terkadang trauma itu juga tidak muncul dengan jelas dan terkadang baru terlihat dampaknya setelah timbul tekanan pada diri anda atau bertahun-tahun selanjutnya. trauma itu mampu berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan seperti depresi akut yang berujung kegilaan. Nah, jika sudah mencapai kegilaan, pengobatannya akan jauh lebih sulit daripada jika anda bersedia mengobatinya sejak awal.

Dan ingat. Anda gak sendiri. Bukan hanya anda yang merasakan sakitnya. Anda bisa meminta bantuan LBH-LBH yang tersebar di daerah anda. Biasanya mereka yang akan melakukan pertoandangan pertama dengan menenangkan anda dan memberitahu anda apa yang harus anda lakukan.

Ingat, penderitaan seperti apapun memang berat. Namun jika kita berhasil mengatasinya, kita hanya akan menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya.

17 comments:

  1. hati-hati ya sayang ... selalu dan minta lah perlindungan dari Allah agar selalu menjaga Be dari orang-orang yang berniat jahat

    ReplyDelete
  2. iya mamaa :) doain abe ya mammii..

    ReplyDelete
  3. Artikel yang menarik. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya dan memberikan komentar. Sebenarnya Di Arung Jeram Cinta ada juga cerita gadis korban perkosaan (Meyra). Semoga kita (kaum hawa) dapat menjaga diri dan kehormatan.

    ReplyDelete
  4. @pelangi : sama-sama :) wah kelihatannya menarik tuh mbak, nanti aku cari deh. iya, semoga kita juga selalu dilindungi Yang Diatas dari tragedi semacam ini. :)

    ReplyDelete
  5. Informasi yang sangat penting dan bagus sekali. Tidak ada yang menginginkan kasus itu terjadi pada kita atau orang yang kita kenal/cintai tapi informasi ini sangat perlu untuk diketahui.

    ReplyDelete
  6. @inten : tentu! :) tidak ada perempuan yang ingin diperkosa, namun setiap perempuan--karena posisinya yang lemah dan minoritas dibandingkan laki-laki berpotensi menjadi korban. semoga infonya berguna ya :)

    ReplyDelete
  7. so, siapa yang patut disalahkan?

    ReplyDelete
  8. membaca artikelnya Adik Suci sangat menarik, memang kasus ini sangat pelik, khususnya di masyarakat Indonesia, budaya ketimuran cukup kuat, banyak kasus2 serupa yg didiamkan, karena adanya ancaman, atau si perempuan takut aibnya jd bahan gunjingan...

    Oke Adik Suci, saya tdk akan memihak laki2 atau perempuan, saling menyalahkan juga bukan solusi yg tepat, tapi saya lebih pada mengajak pada diri kita sendiri untuk lebih selektive dalam bergaul, berbusana, serta memproteksi diri dgn hal2 yg baik, mari kita memulai dari diri sendiri menghiasi dgn akhlak yg baik, insya Allah hasilnya juga akan baik, berakhlak baik bukan berarti gak gaul kok...

    buat Adik Suci lebih hati2 dan jaga diri baik2.

    ReplyDelete
  9. *speechless*
    gue jd takut banget T_T
    tapi gimana kalo yg merkosa ngancem jangan lapor polisi atau keluarga kita nanti dibunuh?? T_T

    ReplyDelete
  10. memang benar apa yang Suci tulis di sini, bahwa Korban perkosaan adalah korban trauma yang paling sulit untuk ditangani secara psikologis.
    Penanganan psikologis dan pemberian obat medis hanya dapat menyembuhkan sebagian dari luka yang mereka derita. Korban perkosaan akan membawa trauma yang mereka dapatkan seumur hidup.

    ReplyDelete
  11. artikel yang bagus bgt...seandai nya saya bisa menemukan nya 10 tahun yang lalu saat sy mengalami nya setidak nya sy bsa puas liat pelaku nya membusuk di penjara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak pernah diperkosa ya..?
      Enak gak sih mbak..?

      Delete
  12. korban perkosaan terkadang juga hamil itu Apakah karena korban perkosaan Juga bisa mengalami orgasme..?

    ReplyDelete
  13. Ini akun anonymous pertanyaannya bego emang. Hahaha. mau ngerasain diperkosa enak atau nggak? Sini deh, gue bawa lo nginep di Nusa Kambangan semalem, gue masukin ke sel yang tahanannya hobi sodomi tahanan baru, ntar kalo udah, gue tanya lagi sama lo diperkosa enak atau nggak, ye?

    dan kalau menurut pemikiran lo hamil itu ada hubungannya sama orgasme, atau perempuan CUMA bisa hamil saat dia orgasme, gue yakin banget istri dari orang2 kayak lo ga bakal hamil2! ngerti maksud gue? Mendingan belajar biologi dasar lagi deh sana, jangan kebanyakan nonton bokep makanya!

    ReplyDelete
  14. Hehehe... Emang sih mbak saya gak pernah belajar biologi dasar,,
    Dulu jaman masih sekolah di STM gk ada pelajaran biologi, n yg dipelajari cuma itung2an ama ngotak atik mesin,,
    Ma'af klo pertanyaan saya bego,, ya memang begini adanya.. He he.. Makasih y mbak atas jawabannya ^-^

    ReplyDelete
  15. Cewe saya juga pernah diperkosa mba suci dan sayangnya dia hamil. Tapi alhamdulillah saya masih dikasih allah hati nurani. Terima kasih artikelnya.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Yang komentar cakep lhoo~oo (amiiin) :p